Sunday, August 23, 2009

Sajak cinta tanpa tajuk

Aku tidak marah
jika engkau benci padaku,
cuma maafkan aku,
kerana menyintaimu.

Aku tidak marah,
jika engkau lupakan aku,
cuma maafkan aku,
menyimpan namamu di hatiku.

Aku tidak marah,
waktu kau tinggalkan aku,
cuma maafkan aku,
selalu hadir dalam mimpimu.

Thursday, August 20, 2009

Surat dari seorang ayah kepada anak

Anakku,
kita memanglah bangsa merdeka,
aku tidak pernah merasa hampa,
engkau mengucapkan hal itu.

Lihatlah,
kita bertemasya dan bersorak riang,
tiada perang, tiada yang mati di perbatasan,
siang dan malam,
bangunan yang cantik terus dibina,
teman-temanmu juga tetap gembira,
terpilih ke universiti terbilang negara,
besok mereka bakal meniti tangga,
menjadi pegawai di syarikat ternama.

Cuma aku ragu-ragu anakku,
merdeka itu baranya bernyala dalam dirimu,
bukan cahaya bersinar di depan matamu.

Lihatlah,
Tanpa perang, tanpa pembunuhan,
Tanah moyangmu diambil penuh lembut,
mereka bangunkan jalanraya,
tegakkan menara,
satu hari nanti engkau akan berada di sana,
sebagai kuli yang tak punya apa-apa,
merenung itulah tanah moyangmu dulu,
yang dia dapatkan dari tombak dan pisau ini.

Lihatlah,
Teman-teman ayah mereka sedang bertikaman,
atas nama politik dan demokrasi,
di pentas itu merebut kuasa,
ada lagi projek mega sedang menanti,
atas nama pembangunan dan kemajuan,
mereka ciptakan wang dan kekayaan.

Ayah tidak pernah marah
engkau melaungkan,
slogan merdeka berkali-kali,
ayah cuma ragu-ragu anakku.

Mungkin ayah yang belum merdeka.