Sunday, February 21, 2010

Cermin itu menipu diri

setiap pagi
cermin itu telah menipu
melukis diriku seolah terlalu tua
kedutan di wajah
dan rambut yang memutih
mungkin bukan diriku

kau lihatlah
aku masih begitu muda
ku masih banyak teman untuk ketawa
kami bersantai di bar dan cafe
air anggur dan wanita cantik
kami berbincang
indeks bursa saham dan tukaran wang
berdebat hal politik sejagat
kondominum mewah semalam ku beli
punya angan beristeri lagi satu

aku juga masih kuat
24 jam tanpa henti aku berkerja
turun naik pesawat ke seluruh dunia
semua orang memandang dengan penuh hormat
tak seorang pun berkata
aku ini terlalu tua

ternyata benar
cermin itu sedang menipuku setiap pagi
membohongi usiaku yang sebenar
sedang
cermin itulah
yang semakin tua

besok pagi
akan aku belikan cermin baru
menukar cermin lama
yang semakin tua.

Thursday, February 18, 2010

Jika waktu berputar kembali

sekalipun,
jika waktu itu dapat diulang semula
tak pernah sesekali aku terfikir
untuk mengucapkan
kata cinta
padamu.

jika waktu itu dapat diulang semula
aku mungkin hanya sekadar berkata
maafkan aku
tak sempat mengucapkannya
suatu waktu dahulu

Tuesday, February 9, 2010

semakin kita jauh

semakin kita jauh
semakin kita teringat
kenangan silam yang tak akan diulang

semakin umur dimamah masa
semakin kita terkenang
pengalaman singkat yang ditinggalkan

itulah hati
yang tak pernah terlupa
itulah hati
mencatat semua cerita

Thursday, February 4, 2010

Surat cinta seorang lelaki gila

Selama seratus hari aku menulis surat ini. Ku tulis dari titik embun terbaik. Ku karang ia dengan sejuta warna hidup - ku adun ia dengan wangi seribu kuntum - yang kudapatkan dari seratus padang dan bukit. Ku catat sejuta harap dalam satu ayat. Ku coret rasaku pada setiap baris. Ku kumpulkan segala mimpi terindah pada setiap musim. Ku padam segala derita dan ketakutan. Inilah suratku yang tak pernah aku tuliskan - inilah surat agung cinta kita. Inilah kata keramat yang lebih indah dari hakikat cinta Laila dan Majnun - lebih teguh dari istana cinta Taj Mahal.

Kau tentu tak pernah menduga. Burung yang terbang jatuh tatkala mendengar syair cintaku. Angin berhenti berhembus pada hari ku letakkan noktah terakhir surat ini. Bumi seolah kehilangan arah putaran tatkala ku bacakan bait ayat satu demi satu. Tajam panah arjuna sekalipun tak sehalus mata penaku.

Cuma sayang - surat ini tak pernah aku mampu utuskan padamu. Aku kehilangan jejakmu. Aku kehilangan arahmu. Aku tidak pernah tahu akan kewujudanmu. Dan surat ini, tetap aku simpan di sini. Aku bawa ia ke mana-mana. Ku bawa ia sepanjang hidupku. Ia sudah menjadi nadi gerak nafasku. Ia menjadi temanku yang paling setia.

Sebab itu - kalau kau melihat aku berjalan-jalan sepanjang hari - setiap malam - selama 40 tahun ini - tanpa penat dan jemu - tanpa kesakitan - tanpa aku menghiraukan hujan dan panas - tanpa aku hirau sesuatu apa pun - kerana bagi aku - aku hanya ingin pastikan surat ini sampai padamu. Biarlah setiap hari orang mencemuh diriku. Melihat jijik kotor tubuhku.

Aku harap, tatkala surat ini sampai - ia meluluh hatimu. Menyampai hasrat rinduku. Mengucap makna cintaku. Moga-moga, kau tahu siapa dirimu dalam setiap urat rasaku.

Lihatlah. Surat ini ada di sini. Di dalam bekas guni buruk ini.

Lihatlah. Bekas guni ini sudah hancur, rabak dan melusuh. Ia koyak sepanjang perjalanan. Tapi surat cintaku tetap terlipat kemas di dalamnya.

Jika ada orang berkata aku ini lelaki gila.
Gilaku hanya padamu.