Thursday, May 20, 2010

Cerita abang

Sempena memperingati kepulangan abang

tentu engkau masih ingat lagi,
saat aku ditinggalkan di batas sawah,
dalam gelap malam yang sunyi,
itulah waktunya aku tahu,
sesekali kita perlu diam,
dari terus menangis.

engkau mungkin tidak terlupa,
tatkala badanku penuh lumpur,
bermain di tapak semaian,
disergah pulang ke asrama
seolahnya memberikan isyarat
sekolah itulah tempat kami,
masa muda hanya sekali.

cerita ini mungkin kau simpan,
di subuh hari yang dingin,
engkau menyimbahkan sebaldi air,
mengejutkan aku dari mimpi,
bangunlah diri mengadap Tuhan,

selagi tersisa umur yang ada.

begitu cekal dirimu abang,
menongkah payah hidup,
membesarkan kami,
apakah ada galang ganti,
insan sepertimu,
lilin yang membakar diri,
hitam jelaganya menahan sakit.

tatkala aku di menara gading
engkau masih insan biasa,

terus tabah tidak berubah.

abang,
terima kasih
memberikan kami sesuap makan,

membelai kami dengan penuh kasih
mengajar kami makna kehidupan
mendidik kami menjadi insan.

tatkala Tuhan memanggilmu pulang
aku tahu benar
engkau hanya dipinjamkan seketika
menjadi payung kami yang resah
menunjuk jalan kami yang leka.

terima kasih abang
datangmu membuka jalan,
pulangmu menyimpan kenangan,
dalam lukisan keluarga

yang tak terlupakan.

Adelaide
20 May 2010








1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete